Menyelusuri Jejak Kapitalisme di Amerika

Ini adalah sebuah film dokumenter arahan Michael Moore. Yah, Moore memang sudah cukup terbilang specialist untuk film yang sejenis ini. Sebut saja “Bowling for Columbine”, “Fahrenheit 9/11”, serta “Sicko” adalah beberapa film yang sudah dibuatnya. Sebuah piala Oscar untuk “Bowling for Columbine”, sebuah Palme D’Or untuk “Fahrenheit 9/11”, belum cukup baginya untuk terus menyelidiki peristiwa-peristiwa mengenai ketidakadilan, kecurangan sepihak, dan sebagainya. Melalui “Capitalism : A Love Story” Ia mengajak penontonnya untuk jauh lebih dalam mengerti bagaimana dampak kapitalisme bagi Amerika.

Dalam dunia kapitalisme hanya ada dua pilihan, berenang atau tenggelam. Dimana yang kuat akan terus bertahan dan menguasai yang lemah. Kehidupan kapitalisme di Amerika membuat banyak orang kaya semakin kaya, dan orang miskin semakin miskin. Hal ini digambarkan dari berbagai kisah nyata yang menuntut keadilan.

Film yang berdurasi sekitar 120 menit ini mengajak penonton mencerna dari setiap kejadian yang benar-benar pernah terjadi. Seperti gayanya, Ia selalu menjadi pemeran utama dalam setiap film-nya dan melakukan penyelidikan, serta berbagai macam hal yang terbilang cukup “berani”, dan patut diacungi. Seperti pesannya, untuk mendapatkan sebuah perubahan, kita harus bertindak untuk berubah.

Mulai dari pemerintahan Reagan, Clinton, hingga Bush, menjadi bahan referensi penjelasan jalannya kapitalisme di Amerika. Hingga terjadinya krisis financial pada tahun 2008 yang sangat menggemparkan Wall Street, dan tentunya Amerika. Moore menjelaskan bagaimana sebuah perusahaan besar, seperti General Motor, melakukan asuransi jiwa bagi karyawan, hanya untuk mendapatkan tambahan profit semata. Banyak karyawan yang secara sepihak oleh perusahaan mendapatkan asuransi jiwa, dimana ketika mereka meninggal, pembayar dari asuransi tersebut, yaitu pihak perusahaan, mendapatkan sejumlah uang tanpa. Ia juga berusaha membandingkan dengan aksi Dr. Jonas Salk, penemu vaksin polio, yang sama sekali tidak membuat paten dan mencari keuntungan semata dari penemuannya.

Dari adanya krisis finansial di Amerika yang dilanjutkan dengan pemerintahan Presiden Barrack Obama, sebagian orang berpikir awalnya bahwa ia adalah seseorang yang sosialis, namun ternyata Obama semakin diminati dan berhasil duduk di kursi presiden. Tidak hanya Presiden Amerika saja, US Secretary Treasury juga menjadi sasaran empuk investigasi Moore kali ini. Tentu dengan narasumber-narasumber ahli serta para tokoh yang juga berperan dalam kejadian tersebut.

Aksi para buruh di Chicago juga menjadi sebuah sorotan dalam film ini. Mereka dipecat secara sepihak dan melakukan aksi diam di dalam pabrik hingga gaji mereka terbayarkan. Respon positif dari Obama mampu membuat mereka mendapatkan keadilan mereka, dan itu memang realita yang ada. Serta tidak ketinggalan, beberapa aksi polisi yang seakan melindungi kepentingan pihak kapitalis, dan menekan masyarakat kelas bawah. Hal ini membuat mengapa kejahatan seperti perampokan bank cukup tinggi. Karena demi mendapatkan uang, mereka rela untuk melakukan penggadaian rumah, lalu tidak mampu membayar, dan akhirnya diusir dari rumah mereka sendiri.

Seperti kata Moore, “This is capitalism. A system of taking and giving, mostly taking.” Film ini penuh dengan perpaduan cuplikan-cuplikan yang kemudian menjadi sebuah tontonan documenter yang menarik, dan cerdik. Moore selalu punya bukti untuk memperlihatkan, dan itu kunci ketertarikan saat menonton film ini. Usaha-usaha untuk mengontak sampai mencoba menangkap CEO demi keadilan, mungkin terkesan cukup gila dan berani.  Namun mengartikan Moore tidak hanya berusaha untuk melakukan investigasi semata, tetapi Ia juga berani bertindak secara nyata.

“I refuse to a country like this, and I’m no leaving.” Salah satu pernyataan Moore yang terbilang menarik. Ia menggambarkan bahwa ketika kita menolak sesuatu yang menjadi identitas kita karena terbilang buruk, hanya dengan mengubahnya untuk menjadi sesuatu yang lebih baik, sebab kita tidak akan meninggalkannya, dan itu identitas. Akhir kata, Saya setuju dengan salah satu argument penutup Moore, “Capitalism is an evil, and you cannot regulate evil. You have to eliminate it and replace it with something that is good for all people. And that something is called Democracy.”

cinejour.wordpress.com

Iklan

Mohon komentarnya, setelah membaca posting ini.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s