Kisah Wanita yang Berpura-pura Menjadi Seorang Wanita

“Victor/Victoria” memberi warna tersendiri dalam genre musikal. Film yang dibintangi oleh Julie Andrews, yang dikenal dengan peran Maria dalam “The Sound of Music” dan Mary dalam “Mary Poppins”, sangat menakjubkan. Sayang melalui penampilannya yang brilliant, hanya membuahkan sebuah nominasi Oscar, pada tahun itu, yang didapat oleh sang brilliant Meryl Streep dalam “Sophie’s Choice.”

Film yang disutradarai oleh Blake Edwards, yang juga adalah suami dari Andrews, memang sangat terkenal dalam mengolah film-film komedi klasik. Sebut saja “Breakfast at Tiffany’s” yang melegenda dan Ia juga adalah kreator dari “The Pink Panther.” Film ini tidak hanya saja menawarkan musical, tetapi juga drama, serta komedi-komedi ala Edwards.

Film ini berkisah tentang Victoria, yang diperankan oleh Julie Andrews. Ia adalah seorang wanita miskin yang memiliki bakat dalam menyanyi. Kehidupannya berubah ketika Ia bertemu dengan Toddy, seorang gay yang juga adalah seorang penyanyi klub, yang diperankan oleh Robert Preston. Toddy menyuruh Victoria untuk berpura-pura sebagai seorang pria, dan juga sebagai kekasihnya yang berasal dari Polandia, dan memiliki bakat untuk bernyanyi dan kemampuan untuk berpura-pura menjadi wanita. Toddy kemudian mengajak Victoria untuk bertemu dengan Cassell, yang merupakan pemilik sebuah klub. Melalui Cassell, Victoria terkenal menjadi salah seorang entertainer dan mengenal King Marchand, seorang jutawan yang juga memiliki klub, yang diperankan oleh James Garner, dan juga Norma, seorang penyanyi klub Marchand yang sedang menemaninya saat itu, yang diperankan oleh Lesley Ann Warren.

Sejak pertemuan pertama dengan Victoria, Marchand jatuh pada pandangan pertama. Bagi Marchand, walaupun ia tahu Victoria adalah seseorang pria, namun Ia telah jatuh hati. Katanya, “I don’t care if you’re a man. I still don’t care.” Yah, dengan beberapa usaha menyelidiki Victoria, Ia akhirnnya tahu kerumitan yang sebetulnya sedang terjadi. Begitupun dengan Victoria, Ia juga jatuh hati dengan Marchand. Ketika keduanya harus memulai kisah penuh cinta mereka, publik hanya mengenal Victor yang sebenarnya Victoria, dan Marchand harus berpura-pura menjadi seorang gay.

Film yang mengalun dengan sangat indah. Iringan Henry Mancini memang sudah tidak perlu diragukan. Paduan lagu yang menarik, terutama “Crazy World” dan “You and Me.” Henry Mancini sebagai seorang komposer yang cukup melegenda dengan “Moonriver” dalam “Breakfast at Tiffany’s” memberikan perpaduan nada yang sangat mengesankan.

Kisah yang merupakan adaptasi dari film “Viktor Und Viktoria”, dan dibuat kembali naskahnya oleh Edwards ini berhasil meraup tujuh nominasi piala Oscar, mencakup untuk Best Actress (Julie Andrews), Best Supporting Actor (Robert Preston), Best Supporting Actress (Lesley Ann Warren), Adaptation Screenplay, Art Direction, Costume Design, dan Adaptation Score. Sayangnya, hanya Henry Mancini dan Leslie Bricusse yang mendapatkan Oscar melalui adaptasi musik terbaik.

Gaya Jenaka Edwards tetap menambah unsur komedi dalam film ini, walaupun hanya sebagai bumbu-bumbu saja. Dengan setting latar yang sangat menggambarkan era 1930-an, dimana pertunjukan big band dan cabaret menjadi sebuah hal yang biasa bagi kalangan tertentu. Film ini pantas disebut sebagai salah satu film terbaik dari Edwards. Tidak mengherankan saat Ia mendapatkan Honorary Awards Oscar atas kariernya di Hollywood pada tahun 2004, film ini menjadi salah satu pengisi opening scene bersama hits-hits  lainnya.

Film ini berdurasi 128 menit, cukup, tetapi tidak terlalu panjang untuk ceritanya. Yang menarik bagi saya adalah akting Julie Andrews dan Robert Preston. Melihat kemampuannya berakting, sungguh tidak perlu diragukan. Mengangkat tema kehidupan homoseksualitas pada tahun itu memang masih agak tabu, namun film ini cukup berani. Andrews sangat lihai dengan setiap pertunjukannya, dan Preston dengan gayanya sebagai seorang gay. Warren yang menjadi Norma dalam film ini cukup mendapat perhatian, walaupun tidak terlalu memiliki banyak peran. Menurut saya, ketiga karakter dalam film ini sangat kuat, dan diperlukan kemampuan acting sekelas Andrews tentunya.

 Menonton film ini membangkitkan semangat saya untuk kembali menonton musical yang lainnya. Setelah sempat redup sesaat, film ini mengingatkan saya dengan keindahan dari sebuah klasik, yang patut untuk tidak dilupakan dan harus dikenang. Dan, “Victor/Victoria” adalah sebuah musical dari era 1980-an yang dipadu dengan sentuhan komedi, yang mengalir dengan kisah dan musik dan menakjubkan, yang patut untuk menjadi sebuah klasik yang indah.

Good

Good

Golden Ticket

cinejour.wordpress.com

Iklan

2 responses »

  1. Ryan Duvancert berkata:

    is a 1981 American film written and directed by Blake Edwards starring Richard Mulligan and Julie Andrews.

    • Bavner Donaldo berkata:

      Sorry, I think you wrong.. Victor/Victoria is 1982, we are using iMDB, for the source of the year. Also, Julie Andrews is play at this movies, but with James Garner and Robert Preston. I already check for this one. If you check at iMDB, Richard Mulligan is not act for this movie.
      Until now, I haven’t watch the broadway of this movie, maybe Robert Mulligan play for its Broadway. Thank you

Mohon komentarnya, setelah membaca posting ini.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s