Petualangan untuk Kembali ke Kehidupan Nyata dari Titik Terdalam Bumi

Mau mencoba sebuah pengalaman berpetualang di tempat yang sangat ekstrim? Itu yang ditawarkan film ini. “Sanctum” adalah film keluaran 2011, yang tidak hanya menegangkan, tetapi juga mengandung unsur drama yang tragis.

Film ini bersetting di Papua Nuigini, tepatnya di Espiritu Esa Ala, sebuah lubang besar yang memiliki goa-goa yang indah. Pemandangan keindahan alam, begitu digambarkan oleh Alister Grierson, sutradara film ini. Memulai sebuah awalan dengan banyaknya keindahan alam, menjadi salah satu unsur kekuatan film ini. Seperti biasa, sebelum adegan yang menantang dan mencekam, tentu pastinya dimulai dengan kisahnya terlebih dahulu.

Awalnya, ini mengisahkan tentang kedatangan Carl, yang diperankan oleh Ioan Gruffudd, dan Victoria, yang diperankan oleh Alice Parkinson, di Papua Nuigini. Mereka adalah sepasang kekasih yang sama-sama menyukai tantangan. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh Josh, diperankan oleh Rhys Wakefield, yang merupakan seorang anak dari peneliti yang bernama Frank McGuire, yang diperankan oleh Richard Roxburgh.

Carl, sebagai sponsor dari ekspedisi Frank, membawa Victoria untuk melihat Esa Ala. Mereka didampingi oleh Josh, dan beberapa rekan-rekan menjelajah salah satu lubang terbesar di dunia, dan menyelam sampai ke dalam basecamp Frank. Frank dan rekan-rekan sesama peneliti, berusaha untuk terus masuk kedalam gua-gua, mengeksplorasi, dan menjelajah sedalam mungkin.

Ketika Carl, Victoria, dan Josh telah tiba di basecamp, yang berada di bagian terdalam yang telah dijelajahi oleh para peneliti ini, bencana dimulai. Terjadi sebuah badai besar yang disertai dengan hujan yang sangat deras. Derasnya hujan menambah jumlah debit air yang masuk ke dalam lubang yang kemudian memberi sebuah malapetaka bagi para peneliti yang berada didalamnya. Selain merusak komunikasi dengan pos yang berada di luar lubang, badai membuat mereka untuk berusaha naik sampai ke titik terluar, dimana mereka dapat aman.

Satu per satu rekan mereka meninggal, karena tidak mampu dengan gelombang air yang terus naik. Tragisnya, adalah ketika Frank melakukan “pembunuhan” terhadap Luko, salah seorang rekan mereka. Luko hanyut dengan gelombang yang begitu besar dan membuatnya menderita lumpuh, dan hanya bisa tergeletak begitu saja. Untuk menghilangkan penderitaannya, Frank melakukan aksi pembunuhan dengan mencelupkan Luko hingga Ia meninggal. Menurutnya, itu jalan yang terbaik, sebab Ia tidak akan mampu membawa Luko keluar dari lubang, dan Luko pun sudah terlihat sangat menderita.

Ya, perjalanan mereka semakin mencekam. Hingga tersisa Carl, Victoria, Josh, dan Frank. Sayang, Victoria, yang sedikit keras kepala tidak mempercayai perkataan Frank, yang membuatnya harus meninggal dengan tragis di lubang. Walaupun hanya sisa bertiga, membuat Carl memisahkan diri, karena dendam atas kematian kekasihnya. Josh dan Frank kemudian memulai perjalanan mereka sekaligus lebih mendalami karakter mereka sebagai Ayah dan Anak. Hubungan mereka yang awalnya kurang akur, menjadi semakin baik dengan adanya traged ini.

Sayang, ketika mereka hampir sedikit lagi tiba di permukaan, mereka bertemu dengan Carl. Carl kemudian memukul Frank dan dengan tidak sengajanya menusukkan Frank batu berduri yang berada di goa. Carl kemudian lari, dan hal ini membuat Frank menjadi seperti Luko, tidak berdaya. Ia pun meminta Josh untuk melakukan apa yang telah Ia lakukan sebelumnya kepada Luko. Dan, ini bagian yang paling menyedihkan dalam film ini. Dengan berat hati, dan tidak tega, Josh harus melakukan pembunuhan kepada Frank. Josh pun melanjutkan perjalannya hingga akhirnya sampai di sebuah pantai.

Sangat menegangkan, dengan iringan latar music oleh David Hirschfelder, akan mampu membuat penonton merasakan ketegangan-ketegangan dalam film ini. Setting yang diatur sedemikian rupa hingga menjadi goa bawah tanah, dibuat dan ditayangkan menjadi sebuah tempat yang indah namun mencekam, sebab menjadi pembawa maut bagi beberapa karakter dalam film ini.

Bagian yang menarik dalam didalam film ini ketika Frank dan Josh, tiba di sebuah lubang yang tidak terlalu dalam, dan berisi sebuah tank peninggalan perang dunia kedua. Sebuah latar yang mengesankan bagi saya. Adegan pada bagian itu memang tidak terlalu berarti, namun latar tempat yang diambil sedemikian rupa, memberi warna tersendiri dari film ini bagi saya.

Biar diakhiri dengan satu karakter saja, toh tidak mati semua. Tentu akan sangat mengecewakan bila semua karakter di film ini harus meninggal. Tetapi, alur yang sebenarnya flashback mampu dikemas dengan baik di awal, dan ditutup diakhir dengan sangat baik. Usaha untuk kembali bangkit yang coba dikeluarkan oleh Josh ketika ditinggal oleh Sang Ayah, membuatnya Ia berhasil melewati petualangan mematikan ini, dan diperankan dengan sangat baik oleh Wakefield.

Walaupun film ini mengambil tempat di Papua Nuigini, aslinya film ini diambil sepenuhnya Australia. Ini merupakan sebuah film produksi Australia, yang sebetulnya diinspirasi dari sebuah kejadian nyata. James Cameron, sebagai salah satu tokoh penting yang menangani film ini, menjadi sebuah jaminan bagi para penonton. Setelah sukses dengan “Titanic” dan “Avatar”, tentu nama James Cameron sudah tidak dapat disingkirkan, Ia adalah seorang pencetak “The Best Box Office Movie of All Time.”

“Sanctum” adalah sebuah film yang tidak hanya menawarkan sebuah petualangan yang mencekam, tetapi dibalut dengan drama yang tragis, dan pemandangan latar yang sangat indah.

Okay

Okay

Movie Ticket

cinejour.wordpress.com

Iklan

One response »

  1. basketball berkata:

    I read this piece of writing completely regarding the difference of most recent and preceding technologies,
    it’s awesome article.

Mohon komentarnya, setelah membaca posting ini.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s