How To Become a Billionaire

Anda mau tahu caranya menjadi kaya ? tidak usah baca ratusan buku atau mengikuti seminar ratusan juta. “The Billionaire” membeberkan semua rahasia bagaimana menjadi miliarder.

“The Billionaire” menceritakan kisah hidup dari seorang anak muda bernama Aithipat Kulapongvanich, pemilik perusahaan Tao Kae Noi, cemilan rumput laut yang biasa anda temui di minimarket seperti 7-Eleven. Aithipat (Peach Pachara Chirathivat) yang mempunyai nama panggilan Top, adalah seorang anak remaja berumur 16 tahun yang kecanduan online game. Pada suatu saat, Top menyadari bahwa online game yang selama ini dia mainkan dapat menjadi mesin uang dengan memperjualbelikan barang-barang yang ada di game tersebut. Top mendadak menjadi kaya dan dia pun dapat membeli sebuah mobil dari online game yang selama ini dia mainkan.

Karena hal tersebut, Top menjadi makin kecanduan online game sehingga kehidupan pendidikannya hancur, dia tidak pernah belajar dan tidak diterima di universitas negeri manapun. Top semakin menjadi-jadi hingga suatu hari akun online game-nya diblokir, yang otomatis menghancurkan mesin uangnya. Top terpojok, karena selain keuangannya yang sedang parah, dia harus membiayai kuliahnya sendiri karena masalah ekonomi rumah tangga. Berbagai usaha dilakukan oleh Top, mulai dari mencoba menjual mesin dvd sampai akhirnya dia mencuri kalung jimat ayahnya demi mendapatkan uang. Top menyadari bahwa dunia perdagangan lebih kejam daripada yang selama ini dia lakukan di dunia online game.

Di usia 17 tahun, Top mencoba untuk berdagang chestnut menggunakan mesin yang dia sewa di sebuah pameran dibantu oleh tukang kebunnya yang bernama Tueng (Piak Poster). Akibat hal tersebut, kuliah Top menjadi terbengkalai, Top lebih sering keluar kelas demi mengurus bisnis chestnut-nya. Walau bisnis chestnut Top awalnya sepi tapi kemudian cukup berkembang pesat bahkan sampai mempunyai cabang. Di usia 18 tahun, Top mengalami salah satu titik terberat di kehidupannya, keluarganya dililit utang 40 juta Baht, rumahnya disita oleh bank sehingga keluarganya harus pindah ke Cina, dan bisnis chestnut yang dia bangun harus bangkrut karena bermasalah dengan pihak mal. Top sempat stres namun dia tidak putus asa dan bertahan di Thailand.

Suatu hari Lin (Walanlak Kumsuwan), kekasih Top, membawakan Top rumput laut goreng yang rasanya cukup enak. Otak dagang Top mulai berjalan dan inilah awal mula snack Tao Kae Noi ditemukan. Dalam merintis Tao Kae Noi, Top mengalami banyak masalah dan hambatan dari pembuatannya sampai negosiasinya dengan 7-Eleven. Top bahkan menjual segala aset yang dia miliki demi jalannya bisnis ini. Tidak jarang Top stres dan hampir menyerah. Di lain pihak, Lin  terus mendesak Top agar kembali bersekolah dan melupakan bisnisnya, ayah Top juga kembali mengajak Top untuk pergi ke Cina dan kuliah di sana. Apa yang Top lakukan ? akhir kisahnya dapat kita lihat sekarang, Top adalah produsen cemilan rumput laut terlaris di Thailand, berpenghasilan 800 juta baht per tahun dan memperkerjakan 2000 staf.

Film ini sangat menginspirasi saya dari apa yang dilakukan oleh Top. Terdapat tiga pelajaran yang dapat saya ambil. Yang pertama, film ini membuktikan bahwa kesuksesan tidak pernah ditentukan oleh usia tetapi tekad, kerja keras, dan doa. Top menjadi seorang miliarder pada usia yang sangat muda bahkan dia berada dalam keterbatasan serta tekanan. Yang kedua, pendirian yang benar sangatlah dibutuhkan dalam mengejar mimpi-mimpi kita. Top seringkali dijatuhkan mentalnya secara tidak langsung bukan oleh penjahat atau penipu tapi orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan kekasih, namun Top tetap berdiri pada pendiriannya yang kokoh dan menikmati hasil pada akhirnya. Yang ketiga, keadaan terpojok justru dapat menjadi salah satu kekuatan kita yang terbesar asalkan kita menanggapinya dengan benar. Top mengalami banyak masalah dan hambatan dalam hidupnya tapi dia jusru memanfaatkan itu sebagai peluang dan kesempatan untuk dirinya menjadi lebih baik.

Dalam film ini, kita dapat melihat akting serius dari Peach Pachara walau sebelumnya dia tampil sangat berbeda di “Suckseed”. Beberapa adegan jenaka yang biasanya ditampilkan oleh film-film Thailand bertemakan serupa juga dapat anda saksikan di film ini. Sekilas, film ini mirip seperti film “Pursuit Of Happyness”, namun dengan tokoh yang berbeda dan kisah yang berbeda serta dikemas oleh alur flashback campur yang membuat film ini jadi lebih menarik. Untuk para entrepreneur muda, saya sangat merekomendasikan film ini karena saya yakin film ini dapat melahirkan semangat baru seperti yang saya alami ketika menonton film ini. Jadi, apakah anda sudah siap kaya ?

“Never surrender, because if you do, it’s over”

-Aithipat Kulapongvanich-

Good

Good

Golden Ticket

Iklan

5 responses »

  1. Maudy berkata:

    gue malah pas pertama tahu film ini gue kira ini tuh kaya model The Social Network versi Thailand. Btw, film Thailand distribusinya lancar yah ke indonesia? gue liat ini baru main di Thailand, eh langsung main di indo. Bagus distribusinya. Keliatan banget kalau Thailand udah punya pasar di indo.

  2. s2a berkata:

    Filem2 Thailand ceritanya sederhana tapi nyampe semua pesan kesannya. Mudah2an per-filem-an Indonesia juga segera terinspirasi dengan cara ini.

  3. juvesan93 berkata:

    @s2a semoga saja begitu.. tidak hanya film-film jorok dan horor kelas 2 yang ditampilkan tapi film-film berkelas dan inspirasional… Jaya terus film indonesia !

  4. juvesan93 berkata:

    @maudy sejujurnya memang seperti the social network tapi the social network tidak menampilkan perjuangan dari sang tokoh tapi intrik dan pengkhianatan di balik suksesnya sang tokoh.. mungkin film ini lebih ke arah pursuit of happyness… film-film thailand memang lagi menebar pesona di indo dengan blitz megaplex sebagai pendukung utamanya..

  5. Bavner Donaldo berkata:

    Sebenarnya, film ini based on true story?? Mungkin klo ya, bisa jadi tambahan referensi.. BIasanya klo bukan dari kisah nyata, kurang inspiratif. 🙂

Mohon komentarnya, setelah membaca posting ini.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s