Sebuah Usaha Penyatuan Cinta oleh Musik

“August Rush” adalah sebuah drama romantic yang berusaha menyatukan sepasang kekasih yang terpisah dari alunan music anak mereka. Tidak hanya itu, mencari anak yang hilang dan kisah seorang anak yang jenius  dengan music, menjadi bagian yang penting di dalam cerita ini. Memulai dengan adegan yang cukup indah, dimana seorang anak yang mendengar dari tiupan angin yang menyentuh tanaman hingga bersuara, akan menambah ketertarikan penonton dalam menyaksikan film ini.

Film drama ini mengisahkan seseorang anak yang bernama Evan, yang diperankan oleh Freddie Highmore, yang terkenal dalam “Finding Neverland”, “Charlie and Chocolate Factory”, serta “The Spiderwick Chronicles”, sebagai seseorang yang memiliki kemampuan music yang jenius. Maklum saja, dalam jiwa orangtua yang tidak dikenalnya mengalir jiwa music. Sang Ayah, Louis Connely, diperankan oleh Jonathan Rhys Meyer, adalah seorang vocalist band, yang jatuh cinta dengan Lyla Novacek, yang diperankan oleh Keri Russell, yang merupakan seorang Cellist. Di dalam keduanya mengalir seni yang berbeda, namun membuat anak mereka, menjadi seseorang yang sangat handal dengan music dan pendengarannya.

Hubungan mereka yang sebetulnya hanya terjadi dalam semalam, membuat Lyla harus mengandung. Tanpa diketahuinya, Ayah Lyla yang tidak menyetujui hubungan percintaan anaknya itu, memasukkan bayi yang baru lahir itu kedalam sebuah panti asuhan. Lyla hanya tahu bila anak itu telah meninggal saat lahir, dan rahasia pun terkuak.

Evan yang besar di sebuah panti asuhan, berusaha kabur, dan tiba di kota New York. Memulai petualangannya disana, Ia bertemu dengan Arthur, seorang pengamen jalanan. Melalui Arthur, Evan dipertemukan dengan Wizard, diperankan oleh Robin Williams, yang merupakan pemimpin dari kumpulan pengamen cilik ini. Ia melihat bakat music Evan, dan memberinya nama panggung August Rush. Wizard menjual Evan ke berbagai café, demi meraup untuk dari anak ini.

Seorang pekerja dari pelayanan anak, bernama Richard Jeffries, diperankan oleh Terence Howard, mencari Evan yang telah hilang dari panti asuhan.  Ia menjadi salah seorang yang berperan dalam membantu Lyla dalam menemukan anaknya yang hilang.

Evan kemudian menemukan kehampaan, setelah dirinya tahu bahwa Ia hanya dimanfaatkan. Ia melarikan diri dari Wizard, dan menemukan sebuah gereja. Di gereja tersebut, Ia malah mendapatkan sebuah bantuan untuk masuk ke dalam sebuah sekolah music yang sangat terkenal, The Julliard School. Kemampuan Evan menjadi semakin diasah, diasah dan membuatnya dirinya semakin mendalami music.

Kesenangan yang telah dimiliki Evan tidak hanya sampai disitu. Ia dipilih menjadi sebagai konduktor dalam sebuah konser music yang juga menghadirkan Ibunya, Lyla. Tetapi Wizard kembali menculik Evan untuk menghidari acara besar tersebut, dan beruntung, berkat bantuan Arthur, Evan mampu kabur dari Wizard.  Konser music disini menjadi sebuah titik puncak dari kisah ini. Dimana tidak hanya Anak dan Ibu yang dipertemukan secara tidak langsung, tetapi juga Sang Ayah, ketika membaca sebuah iklan tentang acara tersebut. Ketiganya pun bertemu dan mengakhiri kisah ini dengan indah.

Film ini disutradarai oleh Kirsten Sheridan. Walaupun kurang dikenal, namun Ia berhasil menyajikan sebuah film drama keluarga yang menawan. Film yang didukung oleh Mark Mancina sebagai penata music dalam film ini, memberikan beberapa alunan music klasik yang diimprovisasikan dengan getaran-getaran dan suara-suara dari benda secara indah.

Akting dari Highmore, tetap membuktikan bahwa Ia sangat piawai dalam berakting, walaupun sudah semakin besar. Terkenal dengan peran anak kecil, memberikan sebuah tantangan tersendiri bagi Highmore, dan Ia membuktikannya. Selain itu Robin Williams, yang gemar terlihat jenaka, memperlihatkan bad side-nya, dalam peran antagonisnya di dalam film ini. Begitupun dengan Russell, yang memperlihatkan kekuatan insting seorang Ibu dalam mencari anaknya yang hilang. Secara garis besar, acting yang ditampilkan di dalam film ini cukup baik. Selain dengan tunjangan cerita yang kuat, membuat film ini menjadi cerita yang cukup mengharukan.

Narasi terakhir Evan dalam film ini, “The music is all around us. All you have to do is listen.” Karakter Evan dalam film ini menggambarkan sebagai seseorang yang selalu memperhatikan suara-suara yang ada, dan menggabungkannya untuk menjadi sebuah gubahan yang indah. Jiwa seperti hanyut ke dalam music, dan dengan music membuatnya sebagai penuntun dalam perjalanan hidupnya.

Lagu “Raise It Up” yang dikarang oleh Jamal Joseph, Tevin Thomas, dan Charles Mack memberikan sebuah nominasi Oscar untuk Best Original Song. Lagu yang dinyanyikan oleh Jamia Simone Nash dan Impact Repertory Theatre, begitu indah. Apalagi Jamia yang masih kecil, walaupun dengan suara yang agak cempreng, tetapi sangat powerful dan membuktikan kualitas suara yang menakjubkan untuk ukuran suaranya.

Tidak hanya itu saja, Jonathan Rhys Meyer, juga menambah kelengkapan bagi soundtrack film ini dengan pada beberapa track. Instrument “Moon Dance” yang dimainkan Chris Botti dalam film ini sangat menarik, walaupun hanyalah sebagai background music. Serta permainan Kaki King dalam “Bari Improv” yang pada versi filmnya dimainkan dengan piawai oleh Freddie Highmore.

Walau berakhir dengan ending yang kurang memuaskan, film ini tetap menghibur. Film ini berusaha menyatukan music dan cinta, dimana music yang mempertemukan sebuah cinta. Adegan yang paling menarik adalah ketika perbincangan antara Evan dan Louis. Keduanya sangat akrab dan sayangnya tidak sadar dengan hubungan asli mereka. Sayang, pertemuan yang sebentar itu hanya menjadi momen yang begitu saja keduanya, yang sebenarnya cukup bermakna dalam hubungan Ayah dan Anak.

            “August Rush” adalah sebuah film yang unik, walau mengambil latar cerita dengan perpaduan unsur music. Walaupun sebenarnya hanyalah sebuah kisah yang sederhana, namun kerumitan dan perjalanan hidup dari Evan, akan mampu memberikan sesuatu yang tersendiri bagi penonton. Penonton akan merasakan sesuatu yang berbeda dari permainan gitar unik ala Evan, dimana Ia tidak hanya memetik, tetapi memainkan gitar dengan menepuknya. Sebuah tontonan drama yang cukup menghibur, apalagi dengan irama music klasiknya yang fantastic.

cinejour.wordpress.com

Good

Good

Golden Ticket

Iklan

One response »

  1. Hal itu terungkap dalam penelitian Betsy Sparrow, seorang psikolog dari Universitas Columbia yang dimuat oleh Majalah Science belum lama ini.

Mohon komentarnya, setelah membaca posting ini.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s