Misteri Tulang-tulang Cantik

Film yang diadaptasi dari sebuah novel best-seller berjudul sama karya Alice Sebold ini, adalah sebuah kisah flashback yang menceritakan mengenai seorang remaja perempuan, yang bernama Susie Salmon, yang diperankan dengan baik oleh Saoirse Ronan dalam film ini, tentang bagaimana Ia terbunuh dan kelanjutan nasibnya di alam yang lain.

Film yang disutradarai, dikarang, dan diproduseri oleh Peter Jackson ini, berjalan dengan sangat baik. Jackson juga dengan kemampuannya dalam mentransfer imaginasi ke dalam kamera, membuat film ini agak sedikit berbau dengan khayalan-khalayan, yang dikesankan dengan nyata, tetapi terjadi di dalam alam yang berbeda. Film ini penuh dengan penggambaran alam lain yang begitu indah dimana Susie berada, dan berhasil digambarkan Jackson, walau sebenarnya tidak realistis.

Kisah ini berkisah tentang Susie Salmon, yang dibunuh oleh tetangganya, Mr Harvey, yang diperankan oleh Stanley Tucci. Mr Harvey yang penyendiri, ternyata memiliki banyak rahasia yang dipendamnya, yaitu memiliki insting untuk membunuh korbannya dengan jebakan. Sebetulnya, Susie sudah diincar sekian lama oleh Mr Harvey, melalui pengamatan, rencana ruang penjebakan, dan hari H itu sendiri.

Susie sebetulnya baru saja mau merasakan cinta pertamanya dengan seorang pria, bernama Ray Singh, yang diperankan oleh Reece Ritchie. Namun, pada hari rencana pertemuan keduanya, Susie berhasil dijebak oleh Mr Harvey, di sebuah ruang bawah tanah yang berada di ladang jagung dekat sekolah Susie. Dengan ajakan yang diturutinya, Mr Harvey memperlihatkan sebuah tempat yang disebutnya sebagai “tempat bermain” yang tidak boleh dimasuki oleh orang dewasa selain dirinya. Sayang, Susie tidak diperbolehkan keluar dari tempat itu. Ketika Ia berusaha untuk kabur, Ia akhirnya berhasil menjadi korban keganasan Mr Harvey berikutnya.

Setelah Susie meninggal, yang terjadi hanyalah kepincangan di dalam keluarganya. Ayahnya, Jack Salmon, yang diperankan oleh Mark Wahlberg, terus berusaha untuk mencari keadilan atas kehilangan anaknya. Ibunya, Abigail Salmon,  yang diperankan oleh Rachel Weisz, menjadi semakin frustasi dan meninggalkan keluarganya. Sedangkan Neneknya Susie yang cukup liar, Grandma Lynn, diperankan oleh Susan Sarandon, hanya semakin mengacaukan keadaan rumah tersebut dengan perilakunya yang amburadul.

Ada seorang remaja perempuan yang bernama Ruth Connors, yang diperankan oleh Carolyn Dando. Walaupun hanya sebagai karakter pendukung, namun Ia memiliki bagian yang cukup patut diperhitungkan dalam film ini. Ruth, adalah seseorang yang diperlihatkan penyendiri dan pendiam, tampak aneh. Ternyata Ruth memiliki kemampuan untuk merasakan sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh orang-orang pada umumnya, berbicara dengan Roh melalui batinnya. Ruth kemudian menjadi sebagai mediator Susie, dan berakhir dengan menjadi kekasih Ray Singh, yang ditinggal mati oleh Susie. Walau tidak terlalu banyak kemunculan karakter ini, Ia sangat berperan dalam kisah cinta Susie. Melalui tubuhnya, Susie masuk ke dalam tubuh Ruth, dan melakukan ucapan perpisahan dengan cinta pertamanya itu.

Waktu terus berlalu, dan pembunuh Susie tidak ditemukan. Polisi setempat yang berusaha membantu Ayah Susie dengan menginterogasi semua orang yang dianggap mencurigakan, gagal memberikan hasil yang diharapkan. Mr Harvey yang terbilang sudah cukup berpengalaman, berhasil dalam berpura-pura dari pihak polisi.

Sama seperti ayahnya, Susie pun tidak tenang. Walau Ia berada di dunia lain, Ia tidak merasakan sebuah ketenangan. Semua itu kemudian menjadi berakhir sejak Lindsey, yang diperankan oleh Rose McIver, yang merupakan adik kandung Susie menjadi incaran Mr Harvey berikutnya. Lindsey yang pintar dan cukup berprestasi ini, lebih peka dibanding sang kakak. Ia memang merasakan sesuatu yang berbeda dengan tetangganya itu. Rahasia pun terkuak, bahwa Mr Harvey adalah pembunuh Susie. Walaupun sudah ketahuan, Mr Harvey dengan cepat langsung membuang mayat Susie yang ternyata disimpan di dalam sebuah safe box, yang kemudian dibuangnya di sebuah lubang tempat pembuangan barang bekas.

Film ini memberikan sebuah pembelajaran yang baik. Pada akhirnya, keluarga Susie pun dengan ikhlas melepaskan kepergian Susie, mereka tidak mengejar Mr Harvey, karena bagaimanapun juga Susie telah tiada. Keikhlasan itu disertai dengan terkuburnya jasad Susie yang membuat arwahnya tenang. Susie yang berada di alam lain pun digambarkan bertemu dengan gadis-gadis yang merupakan korban keganasan Mr Harvey, dan mereka sadar bahwa pada akhirnya manusia juga akan meninggal dengan sendirinya. Begitupun dengan nasib yang menimpa Mr Harvey, setelah beberapa tahun kemudian, Ia pun harus menelan kematian tragisnya yang jatuh ke sebuah jurang.

Ending yang sangat mengesankan. Selain memang berasal dari sebuah kisah yang memang kuat, para pemeran dalam tiap karakter pada film ini juga sangat mendukung. Terutama Stanley Tucci, yang cukup berhasil mendapatkan sebuah nominasi Best Supporting Actor penghargaan Academy Awards atas perannya dalam film ini.

Sebuah penggabungan drama dan fantasi yang sangat fantastis. Percintaan, pembunuhan, pencarian keadilan, hingga keikhlasan, mewarnai film ini. “The Lovely Bones” tidak hanya menghibur dengan kisahnya yang best-seller, tetapi juga memberikan sebuah arti baru tentang pentingnya sebuah keikhlasan, karena pada akhirnya, semua orang akan mati, sehingga tidak perlu membalas sebuah kematian dengan kematian juga.

Good

Good

Movie Ticket

Iklan

4 responses »

  1. joegievano berkata:

    kalo saya tidak suka sama film ini karena tidak mempunyai identitas yg kuat. apakah ini film fantasy, family drama, psychology thriller, murder mystery? sepertinya peter jackson mencampurkan ini semua dengan visual yg sangat striking dan jatuh cinta dengan ke ‘jeniusanya’ tetapi dia tidak dapat menemukan titik fokus cerita yg konkrit, sehingga cerita seperti terbagi-bagi atau disjointed.

    • Bavner Donaldo berkata:

      Thanks buat komentarnya. Bicara tentang Peter Jackson, He always play with a good imagination. Bicara tentang identitas, cukup banyak film yang melakukan multigenre, dengan mencampur aduk banyak genre ke dalam satu film. Jackson memang sangat baik dalam melakukan penggambaran efek-efek dengan cukup baik buat penontonnya. Kita bisa lihat di TLOTR, film ini, dan sayangnya King Kong. Menurut saya mungkin alasan mengapa film ini di-disjointed mungkin agar terlihat sedikit menambah kompleksitas dari ceritanya.

  2. ken berkata:

    1 hal pelajaran hidup, ikatan batin seorang ayah kpd anak perempuannya cukup kuat. Maka jng pisahkan anak perempuan dr sosok seorang ayah

Mohon komentarnya, setelah membaca posting ini.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s